
KUKAR – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menargetkan realisasi investasi mencapai Rp7 triliun pada tahun 2026. Untuk mencapai target tersebut, peluang investasi di sejumlah sektor potensial dibuka lebar. Terutama sektor non ekstraktif yang dinilai memiliki prospek jangka panjang.
Sekretaris DPMPTSP Kukar Sri Ridayani optimis target investasi tersebut dapat tercapai. Sebab, berdasarkan capaian tahun 2025, realisasi investasi berhasil melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah daerah. Dari target realisasi investasi sekitar Rp7,3 triliun, capaian di lapangan melampaui ekspektasi. Nilai investasi berhasil menembus sekitar Rp12 triliun.
“Untuk 2026, kami menargetkan nilai investasi sekitar Rp7 triliun. Kami optimistis target tersebut bisa tercapai, berkaca dari capaian tahun sebelumnya,” kata Sri Ridayani pada media, di ruang kerjanya, Jum’at (30/10/2026).
Ia menjelaskan, peluang investasi di Kukar masih terbuka lebar. Pemerintah daerah terus berupaya menarik minat investor. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Agar mereka bersedia menanamkan modalnya dan mengembangkan usaha di berbagai sektor.
“Saat ini, tercatat sebanyak 944 investor telah menanamkan modal di Kukar. Jumlah tersebut terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN),” ungkapnya.
Menurut dia, salah satu sektor yang menjadi perhatian untuk pengembangan investasi ke depan adalah sektor non ekstraktif. Ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah mendorong diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan batu bara. Sebab, sektor ekstraktif yang selama ini menjadi salah satu penopang perekonomian daerah memiliki keterbatasan sumber daya alam.
“Karena itu, diperlukan pengembangan sektor lain yang mampu memberikan kontribusi ekonomi secara berkelanjutan. Sektor non ekstraktif memiliki potensi besar. Karena bahan mentah dapat diolah menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” jelasnya.
Ia menyampaikan, beberapa peluang yang dapat dikembangkan, yakni pengolahan kelapa sawit menjadi minyak goreng, rumput laut menjadi bahan baku produk kosmetik, serta pasir kuarsa yang dapat diolah menjadi keramik. “Sehingga sektor non ekstraktif menjadi peluang investasi saat ini hingga yang akan datang,” ujarnya.
Ia berharap, semakin banyak investor tertarik mengembangkan usaha di Kukar, khususnya sektor industri pengolahan, maka potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Tetapi dapat memberikan nilai tambah melalui proses hilirisasi.
“Selain meningkatkan nilai investasi daerah, masuknya investor diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Kehadiran industri pengolahan berpotensi mendorong pertumbuhan sektor usaha lainnya, mulai dari perdagangan, jasa hingga transportasi,” katanya.
Ia mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Kukar terus membuka peluang bagi investor yang ingin mengembangkan usahanya. Melalui pengembangan berbagai sektor potensial, realisasi investasi diharapkan terus meningkat dan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Dengan target Rp7 triliun pada tahun 2026, kami berharap iklim investasi semakin berkembang. Sehingga mampu menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru, yang tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan,” ucapnya. (adv/ki/Diskominfo Kukar)
Editor : Abdul Rahman



