
SANGASANGA – Biasanya anak-anak memeriahkan Hari Anak Nasional di gedung atau hotel. Namun tidak bagi anak-anak di Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Puluhan anak-anak itu memilih memperingatinya sambal berekreasi ke lokasi bekas galian tambang batu bara. Ditempat ini anak-anak mendapatkan edukasi bahayanya lokasi tambang batu bara.
Pelajar kelas 5 SDN 10 Sanga Sanga, Nikita Fitri Caesar dengan suara lantang membacakan surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo saat peringatan Hari Anak Nasional di Balai Pertemuan RT 24 Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kamis (25/7) pagi.
Nikita menyoroti banyaknya lubang bekas tambang batu bara yang dibiarkan terbuka dan membahayakan anak anak seusianya. Selain itu, Nikita menyoroti bencana banjir yang melanda rumahnya jika hujan turun akibat aktivitas pertambangan.
Selain Nikita, ada juga Dian, pelajar kelas 5 SDN 10 Sanga Sanga. Dian menuliskan surat terbuka kepada Gubernur Kaltim Isran Noor.
Dalam suratnya, Dian menyoroti lemahnya Pemprov Kaltim menindak para pengusaha yang meninggalkan lubang tambang tanpa direklamasi.
Surat terbuka yang dibacakan anak-anak ini merupakan bentuk protes warga RT 24 Sanga Sanga Dalam. Aksi spontan yang dilakukan anak-anak, mereka menggelar kegiatan menuntut pemerintah, agar bisa mereklamasi lubang tambang di dekat wilayah mereka.
Mereka berpendapat bahwa lubang bekas tambang ini cenderung merugikan aktivitas masyarakat yang bermukim di RT 24 Sangasanga Dalam. Masyarakat disana, mayoritas berprofesi sebagai petani dan peternak.
Selain menyampaikan surat untuk Jokowi dan Isran Noor, anak-anak ini juga diajak berwisata di dekat lubang tambang.
“Biar gak ditambang lagi, kalau ditambang nanti gak ada yang nanam-nanam lagi, bekas tambang,” ungkap Nikita.
Sementara itu, Ketua RT 24 Sangasanga Dalam, Jauhari mengatakan untuk memanfaatkan momen Hari Anak Nasional ini, warga dibantu mahasiswa yang melakukan praktek mencoba memberikan wawasan dan edukasi kepada anak-anak agar tidak bermain ataupun berenang di lubang bekas tambang batubara.
“Kegiatan ini kita lakukan di hari anak, karena berangkat dari keprihatinan orang tua di RT24. Kerusakan alam yang terjadi hari ini, khususnya di RT 24 Kecamatan Sangasanga adalah kurangnya kesadaran generasi terdahulu terhadap lingkunganya. Karena itu, berangkat dari kesalahan inilah kami sebagai orang tua ingin menanamkan sejak dini, bahwa inilah akibatnya jika kita tidak menjaga alam kita, sehingga jika generasi kita sudah lanjut usia, sudah meninggalkan dunia mereka yang menggantikan menjadi generasi yang mencintai lingkungan,” tandas Jauhari.
Usai melakukan jalan-jalan ke lokasi bekas tambang, anak-anak ini diminta untuk menuliskan harapan dan cita-cita mereka untuk kampung mereka kedepan. Harapan dan cita-cita itu ditulis di dalam kertas dan dimasukan kedalam botol plastic. Kemudian digantung diatas pohon yang berada tepat dipintu masuk balai pertemuan di RT 24. (maman)



