Sekolah Ini Susun Kamus Bahasa Dayak

MALINAU – Salah satu stand pameran yang menjadi perhatian Bupati Malinau Dr Yansen TP yakni stand SMPN 1. Sebab, mampu menampilkan kamus bahasa dayak.

Dalam kesempatan itu, Bupati langsung menandatangani buku kamus tersebut. Dan meminta Kepala Sekolah SMPN 1 dapat menambah dan meningkatkan kamus tersebut.

“Saya harap bisa ditingkatkan. Karena, kamus ini sangat bagus untuk anak-anak,” ungkap Yansen TP saat berkunjung ke stand pameran di Kegiatan Bulan Bakti RT Bersih, Desa Long Loreh, pekan lalu.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 1 Malinau Selatan, Daud Impung menjelaskan bahwa pembuatan kamus bahasa dayak menghabiskan waktu sekitar 4 tahun untuk mengumpulkan perbendaharaan kata-kata.

“Jadi kurang lebih 4 tahun menyusun kamus daerah ini,” ujar Daud.

Dia menyampaikan alasan membuat kamus daerah tersebut. Kamus itu menjadi daya tarik, karena melihat anak-anak sekarang ini mulai lupa dengan bahasa daerahnya. Hal itu yang menjadi pendorong utama menyusun kamus ini.

“Diharapkan kedepan melalui kamus bahasa daerah ini, orang tua dan anak-anak tidak lupa dengan bahasanya sendiri melalui kamus ini,” katanya.

Bahkan, kata dia, penyusunan kamus ini salah satu poin dalam karya tulis. “Karena harus membuat, sehingga menjadi kredit point untuk pengangkatan pangkat atau golongan,” ucapnya.

Dia menyebutkan, bahwa jumlah kosa kata dalam kamus tersebut sebanyak 2 ribu kata. “Kedepan akan dikembangkan dan disempurnakan sesuai arahan Pak Bupati,” katanya.

Menurut dia, penyusunan  kamus itu melalui para pakar dan orangtua-orantua serta tokoh adat. “Memang, dalam penyusunan ini masih belum sempurna. Kedepan dari 253 halaman, akan bertambah lagi,” jelasnya.

Dia berharap kamus daerah itu bisa dibaca dengan tata bahasa yang dapat digunakan. “Ini edisi pertama dan memang masih banyak kekurangan. Diharapkan dari para pembaca bisa memberikan saran dan kritikan yang kontruktif,” ungkapnya.

Dia mengatakan, bahwa kamus daerah ini sudah masuk dalam kurikulum sekolah, yaitu muatan lokal. “Bahasa daerah sudah diajarkan di sekolah. Ini juga menjadi satu keunggulan melestarikan budaya. Karena bahasa dayak memiliki sub-sub yang harus dikembangkan. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memulainya,” pungkasnya. (koran kaltara)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker