
SAMARINDA – Kompleks Stadion Palaran merupakan satu sejarah perkembangan olahraga nasional di stadion yang dibangun dengan anggaran Rp3 triliun inilah untuk pertama kalinya PON dilaksanakan di luar Pulau Jawa.
Pada tahun 2008 lalu, Kalimantan Timur sempat menjadi sorotan.Pasalnya, untuk pertama kali Pekan Olahraga Nasional (PON) dilaksanakan di 4 Kota di Kalimantan Timur.
Pembangunan infrastruktur olahraga besar-besaran menjadi aktor utama daya tariknya. Dua kompleks olahraga berdiri megah. Kompleks olahraga Stadion Madya Sempaja dan Stadion Utama Palaran.
Sebanyak 43 cabang PON 2008 tertampung dan bertanding di arena berstandar internasional. Saat itu, Kaltim lantas menjelma menjadi primadona olahraga Indonesia.Ibarat melempar sinyal bahwa Kaltim siap dibebani tugas menggelar ajang internasional. Publik kala itu tertuju kepada kualitas Stadion Utama Palaran.
Semua tribun sudah memakai single seater, lebih dulu ketimbang Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Klaim awal, kapasitas stadion dengan dua tingkat tribun itu mencapai 67.000 tempat duduk.
Namun saying, hingga saat ini ajang internasional yang rencananya akan digelar ditempat ini tidak pernah terwujud. Stadion Utama Palaran hanya pernah menggelar laga Timnas Indonesia U-19 melawan Persisam Putra U-19. Selebihnya, stadion ini pernah di jadikan kandang Tim Liga 1 Persiba Balikpapan dan Borneo FC saat kualitas rumput stadion masih sangat baik.
Kini, kemegahan stadion kebanggaan rakyat Kaltim ini tinggal kenangan.Stadion Utama Palaran hanya digunakan oleh masyarakat sekitar untuk pertandingan pesahabatan antar tim lokal. Rumput lapangan berjenis zoysia matrella kini sudah tidak terlihat. Bahkan rumput diatas lapangan sudah tidak dominan menutupi lapangan. Namun lebih banyak tumpukan pasir berwarna coklat yang mendominasi lapangan.
Bahkan sirkuit atletik delapan lajur mengelilingi lapangan utama sudah terlihat kusam. Begitu juga dengan papan skor digital berdiri tegap di utara stadion.
Abdulrahahman Amin, salah seorang pengguna lapangan sepakbola menyesalkan kondisi lapangan stadion yang menjadi kebanggaan masyarakat Kaltim itu. Pasalnya, ia melihat ada masalah dalam pengelolaan Stadion Utama Palaran. Seharusnya stadion ini dikelola oleh swasta. Sehingga pemanfaatanya juga akan lebih dapat diandalkan.
“Ini sangat disayangkan. Tidak ada upaya untuk melakukan pemeliharaan aset daerah ini. Kita ketahui bersama, biaya pembangunanya mencapai Rp3 triliun. Kalau dikonvensikan dengan APBD. itu bisa satu tahun APBD Kabupaten/ Kota. Ini merupakan aset yang luar biasa yang tidak dimiliki beberapa daerah. Tapi kurang dimanfaatkan. Sebenarnya ini kalau diberikan ke Perusda, mungkin bisa bermanfaat. Karena antusiasme masyarakat Samarinda dan Kalimantan Timur untuk berolahraga, khususnya sepakbola sangat tinggi,” ungkap dia.
Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengelolaan Komplek Stadion Utama dan Madya (PKSUM) Dinas Pemuda dan Olahraga Kalimantan Timur, Sayid Husein Sadly yang ditemui Senin (5/8) pagi mengatakan bahwa pemeliharaan aset senilai Rp3 triliun ini terganjal dengan anggaran.
“Pembiayaan itu, kan tahu sendiri APBD Kalmantan Timur terkadang mengalami deficit. Dan kita harapkan pembiayaan ini maksimal. Sejak tahun 2008 sedikit saja yang bisa kita lakukan. Tapi untuk pembenahan total kondisinya yang memang perlu perawatan,” ungkap dia.
Namun Sayid Husein membantah jika kompleks Stadion Utama Palaran dibiarkan terbengkalai. Pasalnya, kompleks stadion yang memliki sejumlah gedung olahraga itu telah digunakan pemanfaatanya oleh sekolah khusus olahragawan internasional Kalimantan Timur.
“Jadi kalau dikatakan tidak terawat, memang beberapa bagian perlu pendanaan ekstra. Disana luasanya cukup besar 88 hektare.Sementara fasilitas disana perlu pendanaan cukup besar. Ya. selama ini yang kita lakukan hanya mantainance biasa saja. Memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil. Kita memang berusaha semua, termasuk stadion madya disini. Ya, saya katakan tadi, mengelola stadion tidak sedikit budgetnya. Kita bisa membangun, tapi memelihara perlu anggaran ekstra,” tandas dia.
Namun, karena luasnya areal kompleks Stadion Palaran, maka UPTD hingga saat ini tidak memiliki anggaran yang cukup untuk melakukan pemeliharaan secara frontal. Karena kondisinya sudah lama dan tidak digunakan.
“Kami melihat dari sisi bangunan memang kurang terpelihara. Kami berusaha berkoordinasi melalui Dinas PU untuk minta audit building, jadi bisa diketahui bagaimana standarisasi gedung disana. Kamikan kurang paham tentang struktur bangunan. Mudah-mudahan dengan ada audit dari Dinas PU ini bisa membantu kita,” kata dia.
Hal sama juga disampaikan Kepala Sekolah Khusus Olahraga Internasional (SKOI) Kaltim, Suprayogi saat ditemui di kantornya Senin (6/8) lalu.
Suprayogi membantah jika seluruh fasilitaas peninggalan PON 2008 ini terbengkalai. Setelah SKOI di palaran ini selesai dibangun sejak tahun 2012 lalu, semua fasilitas olahraga di tempat ini bisa dimanfaatkan. Saat ini sejumlah tempat di kompleks Stadion Palaran sudah digunakan oleh para SKOI untuk berlatih.
“Eh tidak, terbengkalai itu kan dalam artian sama sekali tidak termanfaatkan. Ini masih termanfaatkan. Alhamdulillah kita di SKOI itu pemanfaatan gedung masih termanfaatkan tidak terbengkalai sama sekali,” kata dia. (maman)



