Indonesia Disebut Belum Punya Kurva Epidemi Covid-19

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan agar kurva kasus virus corona (Covid-19) turun di bulan Mei. Tim Peneliti Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) menuliskan, hingga saat ini Indonesia belum menampilkan kurva epidemi Covid-19 yang sesuai dengan standar ilmu epidemiologi.

Tim EOCRU itu terdiri dari Peneliti EOCRU Iqbal Elyazar, Ahli Statistik EOCRU Karina Dian Lestari, mahasiswi doktoral Nuffield Department of Medicine University of Oxford Lenny Lia Ekawati, dan epidemologis EOCRU Rosa Nora Lina. Dalam tulisan yang dipublikasikan di laman The Conversation pada Jumat (8/5/2020), mereka meragukan adanya klaim terjadinya penurunan kasus baru Covid-19.

“Masalah utamanya, sudah 68 hari setelah kasus pertama Covid-19 diumumkan, Indonesia belum menampilkan kurva epidemi Covid-19 yang sesuai dengan standar ilmu epidemiologi,” tulis tim EOCRU, yang dikutip pada Sabtu (9/5).

“Karena itu, adanya klaim terjadinya penurunan kasus baru Covid-19 cukup meragukan,” sambungnya.

Menurut Tim Peneliti EOCRU, hingga 8 Mei 2020, pemerintah Indonesia hanya menampilkan kurva harian kasus Covid-19. Mereka mengatakan jumlah kasus konfirmasi harian tidak sama dengan jumlah kasus baru.

“Angka jumlah kasus harian yang dilaporkan tidak bisa menjelaskan laju infeksi harian pada hari sebelumnya. Dengan kata lain, turunnya angka kasus harian itu tidak bisa langsung dibaca sebagai turunnya laju infeksi harian,” tulis tim Peneliti EOCRU.

Dalam keterangannya, Tim Peneliti EOCRU mengatakan jarak waktu saat pengambilan sampel dan hasil pemeriksaan juga menjadi faktor yang mempengaruhi kurva epidemi Corona. Menurutnya, hingga saat ini pemerintah juga masih belum memberikan informasi kepada publik terkait waktu yang diperlukan dalam pemeriksaan sampel.

“Ada faktor lain yang sangat berpengaruh di situ, yaitu lamanya jarak waktu antara sampel diambil dengan hasil pemeriksaan dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan. Sejauh ini publik belum mendapatkan informasi berapa rata-rata waktu pemeriksaan sampel dari 37 laboratorium PCR yang telah difungsikan memeriksa sampel Covid-19,” sebutnya.

Tim tersebut meminta agar pemerintah mengeluarkan kurva pandemi Covid-19 yang sesuai standar ilmu epidemiologi. Pemerintah juga diminta untuk menyampaikan data jumlah dan waktu untuk pemeriksaan PCR untuk setiap provinsi dan kabupaten/kota.

“Harapan kami secepatnya pemerintah menganalisis situasi kurva epidemi Covid-19 ini menggunakan data yang lebih lengkap dan akurat,” kata salah satu tim Peneliti EOCRU, Iqbal Elyazar, Sabtu (9/5).

Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta jajarannya fokus terkait penanganan Covid-19. Jokowi ingin pada Mei ini kurva kasus positif Corona di Indonesia sudah menurun.

“Target kita di bulan Mei ini harus betul-betul tercapai sesuai dengan target yang kita berikan, yaitu kurvanya sudah harus turun. Dan masuk pada posisi sedang di Juni, di bulan Juli harus masuk posisi ringan. Dengan cara apa pun,” kata Jokowi saat membuka rapat kabinet paripurna seperti disiarkan akun YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (6/5/2020).

Selain itu, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy pun mengungkapkan ada kecenderungan penurunan kasus (Covid) di dalam negeri, per 7 Mei 2020. Muhadjir juga menyebut tingkat kesembuhan juga mengalami kenaikan.

“Keadaan peta COVID-19 per 7 Mei ada kecenderungan angka kasus yang terjadi di Indonesia mengalami penurunan walaupun tidak terlalu drastis. Tingkat kesembuhan juga mengalami kenaikan,” ujar Muhadjir dalam konferensi video lewat saluran YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (8/5/2020). ***

Sumber : detik.com

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker