
TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau harus mulai menggeser pola penanganan kemiskinan dari sekadar bantuan finansial menuju sistem pemberdayaan yang mendorong kemandirian jangka panjang. Bantuan tunai hanyalah pintu masuk, bukan tujuan akhir dari penanganan kemiskinan.
“Bantuan tetap kita salurkan, tetapi kita tidak ingin warga berhenti pada penerimaan saja. Tujuan kita adalah perubahan, bukan ketergantungan,” ujar Wakil Bupati Berau, Gamalis, kemarin.
Skema BLT saat ini, kata dia, masing-masing penerima memperoleh Rp500 ribu per bulan. Dicairkan sekaligus untuk tiga bulan total Rp 1,5 juta setiap tahap. Bantuan ditujukan untuk 900 lansia tidak mampu dan 375 anak yatim piatu.
Penyaluran tahap ketiga menyasar 10 kelurahan di wilayah perkotaan. Sementara program serupa melalui Alokasi Dana Kampung (ADK) terus berjalan di 100 kampung. Total anggaran BLT yang digelontorkan Pemkab Berau mencapai Rp1,9 miliar per triwulan atau Rp7,6 miliar setahun.
Meski anggaran besar dan jumlah penerima signifikan, Gamalis menilai program belum maksimal jika belum membuat masyarakat keluar dari ketergantungan bantuan. “Secara angka, kita memang bergerak positif. Tetapi keberhasilan sesungguhnya adalah ketika warga tidak lagi bergantung pada bantuan, dan mampu mandiri dengan pendapatan yang stabil,” tegasnya.
Dia menuturkan bahwa bantuan sosial perlu diiringi pembinaan keterampilan, pendampingan usaha, hingga perluasan akses ekonomi bagi keluarga miskin. Sehingga, setiap bantuan tunai benar-benar menjadi landasan untuk bangkit, bukan sekadar penyangga kebutuhan sementara.
“Bantuan finansial tetap kita berikan, pendampingan sosial juga penting. Tetapi visi akhirnya harus jelas. Mereka mesti menjadi warga mandiri. Kita ingin BLT menjadi jembatan menuju kemandirian, bukan ketergantungan,” ujarnya.
Gamalis meminta setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi, UMKM, pelatihan kerja, dan sosial, untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Setiap keluarga miskin mesti mendapat kesempatan bertumbuh bukan hanya bertahan. “Mulai dari pelatihan hingga akses usaha, semua harus dibuka lebih agresif. Kemiskinan bukan hanya dihadapi dengan uang, tetapi dengan peluang,” pungkasnya. (ar/gs/adv)



