
TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mendorong perubahan besar dalam pola pikir masyarakat pesisir menjadikan pendidikan sebagai budaya wajib, bukan pilihan. Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan, bahwa kebiasaan orang tua mengajak anak bekerja sejak kecil dibanding mengutamakan sekolah masih kuat. Perjuangan memutus rantai kemiskinan tidak akan tuntas hanya dengan bantuan sosial atau program ekonomi.
“Akar masalahnya bukan semata fasilitas pendidikan, melainkan kebiasaan sosial yang masih menomorduakan sekolah. Fasilitas pendidikan sudah kami siapkan. Yang harus kita benahi sekarang adalah kebiasaan. Anak-anak harus berada di sekolah, bukan ikut melaut atau bekerja membantu orang tua,” tegas Gamalis.
Dia menyebutkan bahwa masih banyak anak di wilayah pesisir tidak bersekolah secara rutin bukan karena kesulitan akses, tetapi budaya turun-temurun anak dianggap wajib membantu pekerjaan keluarga.
“Ini bukan semata persoalan ekonomi, tapi persepsi. Orang tua harus sadar bahwa masa depan anak bukan dibangun lewat kerja fisik sejak kecil, melainkan lewat pendidikan dan skill,” lanjutnya.
Gamalis mengatakan, bahwa Pemerintah Daerah telah menyediakan berbagai penunjang pendidikan. Seperti, pembangunan sekolah, bantuan pembiayaan, hingga program makanan bergizi untuk menjamin anak-anak bisa belajar nyaman dan layak. Namun semua fasilitas itu tidak akan berdampak jika tidak dimanfaatkan. “Jangan sampai pendidikan gratis dibiarkan berlalu hanya karena budaya yang salah. Kita harus berani berubah,” ungkap dia.
Dia menegaskan, pemerintah siap hadir dan menyiapkan sarana, tetapi perubahan budaya tetap harus dimulai dari keluarga terutama para orang tua yang memegang peranan utama dalam menentukan masa depan anak. “Kita ingin anak-anak Berau tumbuh dengan cita-cita dan keterampilan, bukan memikul beban orang dewasa. Mereka harus punya kesempatan bersaing, bukan hanya bekerja membantu orang tua,” ucap dia. (ar/gs/adv)



