Polisi Tangkap Preman Pemalak Pedagang

SAMARINDA – Aksi premanisme dan kejahatan jalanan yang marak di media sosial menjadi perhatian serius aparat kepolisian dari Polresta Samarinda.  Seperti yang terjadi pada Senin (28/1).

7 orang preman, yakni Fahruddin (30),  Rahmad Rifai (40), Syahroni (45),  Rojali (48), Safrani (50), Edwin (55) dan Abdul Rahman (60) yang biasa beraktifitas di Pasar Jelawat Samarinda, Kalimantan Timur diamankan tim Jatanras Polsekta Samarinda Kota.

Mereka langsung dibawa ke Mako Polsekta Samarinda Kota untuk menjalani pemeriksaan. Sementara seorang pelaku yang masih duduk di sekolah menengah dipulangkan dan dikenakan wajib lapor.

Para pelaku ditangkap jajaran Polsekta Samarinda Kota setelah aksinya mengeroyok pedagang buah yang tidak mau membayar uang iuran keamanan viral di media sosial.

Dalam video berdurasi 49 detik ini memperlihatkan keributan di sebuah kios buah Pasar Jelawat. Dua orang pedagang buah, yakni Ahmad (50) dan Yusrianto (20)  dikeroyok pelaku yang saat itu tidak mendapatkan uang keamanan dari korban.

Video yang direkam warga di depan kios buah itu memperlihatkan pelaku yang diperkirakan berjumlah 7 orang itu menyerang kios buah milik korban.

Para pelaku akhirnya kabur setelah pedagang lainnya membantu korban dengan membawa senjata tajam.

Timbangan buah yang dipukulkan pelaku ke korban menjadi barang bukti. Begitu juga kayu meja buah yang hancur akibat ulah pelaku.

Kapolsekta Samarinda Kota Kompol Yuliansyah mengatakan bahwa para pelaku merupakan Target Operasi (TO) jajaran kepolisian dari Polsekta Samarinda Kota.

“Mereka berulang kali diamanakan petugas kepolisian atas tindakan pemerasan terhadap pedagang. Namun kepolisian selalu kesulitan mendapatkan korbannya. Umumnya, korban memilih jalan damai,” ungkap dia, kemarin.

Namun kali ini, kata dia, kasusnya dilanjutkan.  Polisi sudah mendapatkan bukti melalui video yang beredar. Dan,  korbanya juga melaporkan kejadian penganiayaan yang dilakukan para pelaku.

Menurut dia, kejadian bermula saat pelaku meminta uang keamanan sebesar Rp500 ribu. Namun korban tidak memenuhi permintaan pelalu. Korban baru bisa membayar bulan depan. Tetapi, pelaku keberatan dan terjadi perselisihan.

“Mereka memaksa dan mengancam, apabila tidak diberikan. Mereka akan angkut barang atau dagangan.  Dan tidak boleh lagi berjualan.  Pedagang buah ini memiliki seorang putra yang masih muda,  mungkin tidak terima, karena sering dikerasi pelaku, akhirnya melawan.Terjadilah keributan antara anak pedagang buah dengan salah satu preman yang sudah kita amankan ini. Mungkin si preman merasa kalah, karena sampai luka disebabkan anak  pedagang buah. Dan, si preman kembali dan membawa teman-temanya. Nah, terjadilah keributan yang videonya beredar viral,” ungkap dia.

Dia menyampaikan, akibat perkelahian tersebut,  korban yang berjumlah dua orang harus dilarikan kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Sementara itu Abdul Rahman, Kepala Geng Pasar Jelawat mengaku bahwa mereka tidak memaksa meminta uang kepada para pedagang. Uang yang diberikan merupakan uang keamanan bagi para pedagang, agar tidak diusir Satpol PP, karena berjualan di jalur hijau.

Menurut Abdul Rahman, sejak dibawah pengawasanya selama 4 tahun, para pedagang tidak pernah diganggu Satpol PP.

“Kalau itu benar pak,  karena ada kesepakatan sebelumnya. Mereka juga usaha dilingkaran. Artinya dilingkaran kami lah. Posisi mereka maunya minta keamanan,  jangan sampai berjualan, tapi di obrak abrik. Selama saya berkecimpung disitu,  aman-aman saja,” kata dia.

Aksi premanisme yang mereka lakukan di Pasar Jelawat Samarinda telah mengantarkannya ke balik jeruji besi. Karena melanggar pasal 170 KUHP untuk aksi pengeroyokan dan pasal 368  KUHP tentang aksi pemerasan dan pengancaman, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.  (maman)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker