SAMARINDA – Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Kalimantan Timur memasuki babak baru setelah beralih naungan dari Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kaltim dan memutuskan bergabung sebagai anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim.
Peralihan dari olahraga rekreasi ke olahraga prestasi itu menjadi pijakan awal untuk menatap PON NTB–NTT 2028, dengan target membawa Kaltim menjadi kekuatan baru di cabang lari trail.
Ketua ALTI Kaltim, Veronika mengatakan organisasi yang telah berusia sekitar empat tahun di Kaltim itu kini telah memiliki kepengurusan di seluruh 10 kabupaten dan kota. Menurutnya, penguatan organisasi menjadi modal penting untuk membangun pembinaan atlet secara lebih terstruktur.
“ALTI adalah induk organisasi yang menaungi olahraga lari trail. Bedanya dengan lari di jalan raya, kami berlari di alam dengan medan batu, tanah, akar, sungai, hingga hutan,” kata Veronika, Sabtu (15/8/2026).
Dia menjelaskan, karakter hutan Kalimantan Timur menjadi keunggulan tersendiri bagi olahraga tersebut. Meski tidak memiliki gunung tinggi, trek alami dengan kontur lembap, akar pohon, dan bukit-bukit membuat peserta dari luar daerah menghadapi tantangan yang berbeda dibanding lintasan pegunungan.
“Rutenya ekstrem. Peserta dari luar justru excited karena tantangannya berbeda. Kami benar-benar membuka jalur di hutan alami,” ujarnya.
Veronika mengungkapkan ALTI juga telah mencatat prestasi pada Kejuaraan Nasional di Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk meraih dua medali emas dan finis di peringkat kedua klasemen umum. Capaian itu menjadi bekal untuk memasang target lebih tinggi di PON mendatang.
“Kejurnas kemarin kita peringkat dua umum, PON nanti kalau bisa target kami juara umum. Kami ingin membuktikan kepada KONI bahwa olahraga ini bisa menjadi salah satu andalan Kaltim,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua KONI Kaltim Hendra Radinal Ary menilai bergabungnya ALTI ke KONI menjadi momentum penting karena status tersebut membuka ruang pembinaan prestasi yang lebih terarah.
“ALTI memilih masuk menjadi anggota KONI berarti fokus ke pembinaan prestasi. Di PON Aceh-Sumut mereka masih eksibisi, sedangkan di NTB nanti rencananya sudah dipertandingkan,” katanya.
Hendra menilai karakter olahraga lari trail yang memiliki beberapa nomor pertandingan membuat proses pembinaan tidak bisa dilakukan secara instan. Ditambah olahraga ini dapat dikategorikan sebagai olaharaga ekstrim, sehingga persiapannya harus semaksimal mungkin.
Ia menyebut, fisik yang prima menjadi hal yang wajib dalam berjalannya lari trail ini, selain faktor medan, jarak yang ditempuh juga tidak main-main, bisa mencapai 100 Kilometer. “Tidak lupa persiapan yang berhubungan dengan safety, karena ini memang olahraga ekstrim, Di hutan-hutan itu mainnya,” jelas Hendra.
Menurut dia, dengan target sebagai juara umum, ALTI didorong memanfaatkan waktu menuju PON untuk memperkuat kualitas atlet di setiap kategori yang akan dipertandingkan. “Olahraga ini punya beberapa kelas yang harus diikuti. Makanya pembinaan harus betul-betul disiapkan agar ketika masuk PON nanti atlet Kaltim bisa bersaing,” pungkasnya. (nul)



