SAMARINDA – Pengurus Pusat Indonesia Beladiri Campuran Amatir Mixed Martial Art (IBCA MMA) menegaskan bahwa pembinaan atlet di level amatir menjadi fondasi utama sebelum seorang petarung berkiprah di ajang Mixed Martial Arts (MMA) profesional, seperti ONE PRIDE, BYOND, HSS hingga KOBI.
Sekretaris Jenderal PP IBCA MMA, Maraden Lumbantoruan, menyampaikan bahwa IBCA MMA memiliki peran berbeda dengan promotor pertandingan profesional. IBCA MMA fokus membina atlet sejak tahap awal hingga memiliki kualitas bersaing di level lebih tinggi.
“ONE PRIDE, BYOND, HSS dan yang lainnya merupakan ajang profesional. Sementara IBCA adalah organisasi amatir. Di sinilah atlet ditempa terlebih dahulu sebelum mereka naik ke level profesional,” kata Maraden, Rabu (22/7/2026).
Menurut dia, pembinaan di level amatir menjadi fase penting membentuk kemampuan teknik, mental bertanding, hingga menambah jam terbang atlet sebelum memasuki dunia profesional. “Kami ibarat koki yang menyiapkan menunya. Atlet-atlet itu kami didik, kami latih, kami gembleng di sini. Setelah benar-benar siap, mereka dipersilakan melanjutkan karier ke ajang profesional,” kata dia.
Maraden menegaskan bahwa IBCA MMA menjalin hubungan baik dengan sejumlah promotor MMA profesional di Indonesia. Bahkan, komunikasi pembinaan atlet terus dilakukan agar tercipta kesinambungan antara kompetisi amatir dan profesional.
“Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan ONE PRIDE. Kami juga sering berdiskusi mengenai pembinaan atlet. Ke depan bahkan ada rencana menggelar kejuaraan nasional bersama KOBI untuk level amatir,” ungkap dia.
Dia menjelaskan kejuaraan amatir memiliki fungsi sangat penting. Sebab, kejuaraan tersebut menjadi atlet mengumpulkan pengalaman bertanding sebelum berstatus sebagai petarung profesional.
“Kalau kita lihat fighter-fighter yang sekarang tampil di berbagai ajang profesional, rata-rata mereka memiliki pengalaman bertanding di kejuaraan amatir dan kejurnas. Jam terbang itu dibangun sejak masih menjadi atlet,” katanya.
Meski demikian, Maraden mengingatkan perbedaan mendasar antara atlet amatir dan petarung profesional. Atlet yang telah memutuskan berkarier di kompetisi profesional tidak lagi diperbolehkan kembali mengikuti pertandingan amatir. “Kalau sudah menjadi fighter profesional, dia tidak bisa lagi kembali bertanding di IBCA. Artinya dia juga tidak bisa tampil di PON karena statusnya sudah bukan atlet amatir lagi,” ucap dia.
Menurut dia, aturan tersebut diterapkan untuk menjaga sportivitas dan memberikan kesempatan kepada atlet-atlet amatir berkembang sebelum naik ke jenjang profesional. “Amatir bertanding untuk kehormatan dan prestasi, sedangkan profesional bertanding sebagai sebuah profesi. Karena itu ada batas yang jelas antara keduanya,” ungkapnya. (nul)



