Sensus Ekonomi 2026, Anggota DPR RI Ajak Masyarakat Kaltim Tak Ragu Berikan Data

SAMARINDA – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kota Samarinda, Jumat (24/7/2026). Forum itu sendiri mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Badan Pusat Statistik (BPS), petugas sensus, mahasiswa, pelaku usaha, media, hingga perguruan tinggi untuk menyukseskan pelaksanaan sensus di Kalimantan Timur.

Hetifah Sjaifudian menyampaikan bahwa pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kalimantan Timur terus menunjukkan perkembangan positif. Meski capaian pendataan telah sesuai target nasional, namun masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Terutama membangun kepercayaan masyarakat agar bersedia memberikan data secara terbuka dan jujur.

“Kita bersama-sama ingin menyukseskan pelaksanaan Sensus Ekonomi di Kaltim. Alhamdulillah sudah on the right track. Capaian kita juga sudah lebih dari separuh dan hampir menyamai target nasional,” ujar Hetifah, Jumat (24/7/2026).

Dia menyebut, dari informasi petugas sensus, masih ada sejumlah hambatan di lapangan. Salah satunya, masih ada masyarakat belum memahami tujuan pelaksanaan sensus. Sehingga muncul berbagai kekhawatiran ketika diminta memberikan data kepada petugas.

“Masih ada sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya memahami Sensus Ekonomi. Ada yang khawatir apakah data mereka aman, ada juga yang takut nanti berpengaruh terhadap bantuan sosial atau bahkan kewajiban pajaknya meningkat. Hal-hal seperti ini perlu kita luruskan,” katanya.

Hetifah menegaskan seluruh informasi yang diberikan masyarakat kepada petugas sensus dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan statistik.  Karena itu, masyarakat mesti menerima petugas sensus dengan baik serta mengisi seluruh pertanyaan sesuai kondisi sebenarnya.

Menurutnya, kualitas data terkumpul sangat menentukan kualitas kebijakan pemerintah di masa mendatang. Data tersebut nanti diolah menjadi statistik resmi yang menjadi dasar pemerintah menentukan arah pembangunan dan kebijakan ekonomi.

“Kalau basis datanya kuat, maka kebijakan yang diambil juga akan lebih tepat sasaran. Misalnya investasi diarahkan ke sektor apa, siapa yang perlu mendapatkan bantuan, dan bentuk bantuannya seperti apa. Semua itu berangkat dari data yang valid,” jelas Hetifah.

Dia mencontohkan pengalaman dari Sensus Pertanian sebelumnya yang menghasilkan berbagai kebijakan strategis. Termasuk lahirnya program pengembangan petani milenial setelah ditemukan fakta bahwa mayoritas petani Indonesia berusia lanjut. Sensus Ekonomi 2026 juga diyakini akan melahirkan kebijakan yang lebih sesuai dengan kondisi riil masyarakat saat ini.

“Mudah-mudahan hasil Sensus Ekonomi ini menjadi dasar lahirnya kebijakan yang benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat sehingga mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur. Itu yang kita harapkan bersama,” tutup Hetifah. (nul)

Show More

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker