
SAMARINDA – Bentang alam Kalimantan Timur dengan rimbun hutan, riam sungai dan desiran pasir pantai yang tersapu ombak menjadi potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata dan olahraga berbasis sport tourism.
Hal itulah yang dilakukan Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Kaltim. Dengan memanfaatkan karakter hutan tropis masih alami, ALTI Kaltim menggunakannya sebagai lokasi kejuaraan dan menjadi daya tarik utama setiap penyelenggaraan event.
Ketua ALTI Kaltim, Veronika mengatakan lari trail berbeda dengan lari pada umumnya. Karena seluruh lintasan lari trail berada di alam terbuka. Mulai dari tanah, bebatuan, akar pohon, sungai, hingga kawasan hutan.
“Jadi lari Trail ini kita larinya di alam, rata-rata kita di Indonesia ini melewati hutan dan gunung,” sebut Veronika, Sabtu (15/8/2026).
Meski tidak memiliki Gunung, kata dia, Kaltim diuntungkan dengan bentang hutan cukup luas. Sehingga olahraga ini tetap bisa berkembang dengan baik. Kondisi tersebut justru menjadi keunikan Kaltim dibanding daerah lain yang mengandalkan jalur pegunungan menjadi lintasan eventnya.
“Kalau gunung biasanya sudah ada trek tinggal naik lalu turun. Di sini kami benar-benar babat alas, membuka jalur di hutan Kalimantan yang masih alami,” ujarnya.
Dia menjelaskan, trek di Kaltim menawarkan tantangan tersendiri, karena dipenuhi akar pohon, duri, kontur tanah yang lembap, serta bukit-bukit yang membuat pelari dari luar daerah harus beradaptasi dengan karakter lintasan berbeda.
Veronica menuturkan, sejumlah destinasi kini mulai dikenal publik setelah dijadikan lokasi penyelenggaraan event ALTI. Salah satunya Air Terjun Tembinus di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta jalur menuju Gunung Parung yang sebelumnya belum banyak diketahui masyarakat.
“Air Terjun Tembinus itu kami yang buka jalurnya. Begitu juga Gunung Parung. Di sana kami menemukan hutan eukaliptus dengan pemandangan yang luar biasa, sehingga sekarang mulai dikenal sebagai destinasi wisata,” katanya.
Dia berharap semakin banyak destinasi di kabupaten dan kota di Kaltim yang dapat diangkat melalui event lari trail, sehingga olahraga tersebut tidak hanya melahirkan atlet, tetapi juga menggerakkan sektor pariwisata daerah.
“Harapan kami nanti hampir seluruh destinasi wisata di Kaltim bisa kami angkat melalui olahraga ini,” ucap Veronica.
Dukungan terhadap konsep tersebut juga disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kaltim, Rasman Rading. Pemerintah akan membantu komunikasi dengan Dinas Kehutanan maupun pihak terkait apabila terdapat kendala perizinan penggunaan kawasan.
“Ketika ini menjadi kendala nanti kita komunikasikan dengan Dinas Kehutanan dan pihak terkait agar kegiatan trail tetap bisa berjalan,” katanya.
Rasman menilai ALTI membawa misi yang sejalan dengan kepentingan pemerintah karena menggabungkan olahraga, promosi alam, dan edukasi lingkungan tanpa merusak kawasan yang dilalui.
“Teman-teman ALTI membawa isu lingkungan. Mereka memasyarakatkan olahraga sampai ke kampung sekaligus memberikan pesan bahwa kegiatan ini tidak akan merusak alam,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua KONI Kaltim Hendra Radinal Ary menyebut karakter lintasan ekstrem di Kaltim menjadi identitas tersendiri bagi cabang olahraga tersebut. Tantangan medan alami membutuhkan kesiapan fisik dan aspek keselamatan yang matang sehingga dapat menjadi daya tarik bagi pelari dari berbagai daerah.
“Olahraga ini ekstrem sekali. Atlet harus punya stamina luar biasa dan memperhatikan faktor keselamatan ketika bertanding di kawasan hutan,” pungkasnya. (nul)



