
SAMARINDA – Rapat membahas nasib sejumpah pekerja proyek Teras Samarinda di Gedung DPRD Samarinda, Jalan Basuki Rahmat, Kamis (27/2/2025) ricuh. Bahkan nyaris terjadi adu jotos antara salah satu anggota DPRD Samarinda dan perwakilan Dinas PUPR Samarinda.
Sebelumnya, Tim Reaksi Cepat (TRC) bersama sejumlah pekerja proyek Teras Samarinda menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Samarinda, sekitar pukul 10.00 WITA. TRC mengatasnamakan perwakilan pekerja Proyek Teras Samarinda, yang belum mendapatkan hak gajinya selama hampir 1 tahun dari Kontraktor Proyek Teras Samarinda.
Selanjutnya, sekitar pukul 11.00 WITA, mereka dipersilahkan masuk ke Gedung DPRD Samarinda. Dan diarahkan ke salah satu ruangan rapat Kantor DPRD Samarinda, untuk menyampaikan aspirasinya ke sejumlah anggota DPRD Samarinda.
Dalam rapat tersebut, dihadirkan juga perwakilan Dinas PUPR dan Dinas Tenaga Kerja Kota Samarinda. Sayangnya, saat rapat tersebut, perwakilan Dinas PUPR Samarinda tidak bisa memberikan kejelasan dan kepastikan, kapan gaji pekerja proyek Teras Samarinda, bisa dibayarkan.
Mendengar pernyataan dari perwakilan Dinas PUPR Samarinda tersebut, tiba-tiba salah satu perwakilan pekerja Proyek Teras Samarinda histeris dan menangis. “Saya tidak mau lagi tinggal di gudang,” ungkap salah satu perwakilan pekerja Proyek Teras Samarinda.
Kabarnya, perwakilan pekerja yang histeris tersebut telah diusir dari kontrakkannya, karena belum bisa membayar sewa kontrakannya. Ini disebabkan, pekerja tersebut belum mendapatkan gaji dari pekerjaan di proyek Teras Samarinda.
Melihat salah satu perwakilan pekerja tersebut menangis histeris, anggota DPRD Samarinda dari Fraksi PKS Abdul Rohim terbawa suasana, dan berbicara keras. Serta meminta Dinas PUPR untuk bertanggungjawab menyelesaikan masalah tersebut.
“Masalah penggajian ini seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah, jika ada itikad baik dari pihak PUPR,” tandas dia.
Reaksi dari Abdul Rohim tersebut, ternyata direspon oleh salah satu perwakilan Dinas PUPR Kota Samarinda. Perwakilan PUPR tidak terima dengan pernyataan keras dan sikap dari Abdul Rohim. Kemudian perwakilan PUPR tersebut berdiri.
Selanjutnya, tiba-tiba Abdul Rohim melempar nasi kotak ke dinding ruang rapat, yang mengarah ke tempat duduk perwakilan PUPR. Lantas perwakilan PUPR ingin menghampiri Abdul Rohim sambil menunjuk-nunjuk.
Situasi sempat memanas dan nyaris adu jotos. Beruntung, peristiwa keributan tersebut langsung dilerai. Sehingga keributan itu tidak sampai ke arah adu fisik. Perwakilan PUPR yang terlibat keributan tersebut, kemudian dijauhkan dari ruang rapat Gedung DPRD Samarinda.
Abdul Rohim meminta Pemkot menyelesaikan permasalahan pembayaran gaji para pekerja proyek Teras Samarinda. “Masalah ini bukan hanya soal administrasi, tetapi juga menyangkut hak asasi manusia. Yaitu, hak pekerja untuk hidup dengan layak,” cetus dia. (sob/gs)



