Andi Harun Hadiri Bedah Buku Aldera

Berharap Mampu Bangkitkan Semangat Intelektual

SAMARINDA – Wali Kota Samarinda Dr Andi Harun menghadiri bedah Buku Aldera Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999 di GOR 27 September Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Selasa (28/2/2023).

Buku Aldera alias Aliansi Demokrasi Rakyat sebuah tulisan yang digagas dari Anggota VI Badan Pengawas Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) Pius Lustrilanang yang berkesempatan hadir sebagai keynote speaker.

Hadir pula sebagai pemateri talkshow, Dosen Fakultas Hukum Unmul Herdiansyah Hamzah dan Dosen FISIP Unmul Sri Murlianti.

Selain digagas Pius Lustrilanang, Tim Penulis Aldera terdiri dari Teddy Wibisana, Nanang Puja Laksana, dan Rahadi T. Wiratama. Buku ini memberikan kesaksian bagaimana Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999 meruntuhkan kediktatoran rezim Soeharto kala itu.

Andi Harun mengatakan kegiatan bedah buku ini mengingatkan semua yang hadir bahwa setiap pergantian rezim selalu ada korban. Setidaknya ada dua contoh peristiwa pergantian rezim di negeri ini yang telah memakan banyak korban.

Yakni, pergantian rezim orde lama menuju orde baru, yang merupakan buntut dari pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965. Ada banyak yang berguguran dari kalangan ulama, santri bahkan jenderal. Kemudian peristiwa orde baru menuju era reformasi. Dimana ketika itu banyak korban berjatuhan dari kalangan mahasiswa.

“Artinya kita diingatkan mahalnya harga demokrasi, begitu mahalnya harga merah putih, harga republik ini sehingga kita kemudian menyadari itu dan bisa menjadi kesadaran kolektif bangsa.

Supaya kita bisa berkontribusi terhadap perjalanan bangsa ini terutama dalam era pembangunan sekarang,” ujar Andi Harun.

Ia menyebutkan bahwa aliran kiri datang pada saat saat reformasi sebagai motor penggerak. Ia mempertanyakan sejauh mana gerakan tersebut akan terus aktif. Ia menginginkan pula agar mahasiswa mengkaji relevansi demokrasi saat ini yang menjadi salah satu tujuan reformasi.

“Nah sekarang menjadi diskursus kita mempertahankan demokrasi seperti sekarang, tapi kemudian ekonomi kita tidak demokratis,” kata Andi Harun.

Menurut dia, Singapura sedikit otoriter, tidak bebas berdemo, tapi demokrasi ekonominya berjalan dan masyarakatnya makmur.

Menurutnya, seiring dengan semakin meningkatnya tatanan perkembangan global dan studi geologi politik ekonomi dunia tidak lantas terpaku ke satu teori dasar. “Jadi adaptasi saya kira di situ poinnya” tegasnya. Terakhir ia katakan apapun pilihannya maka pola ukurnya kemakmuran rakyat.

Ia berharap melalui kajian buku ini bisa membangkitkan semangat intelektual dan kemudian sama-sama berada dalam satu frame, bagaimana berusaha menciptakan Indonesia ini menjadi bangsa ini adil dan makmur.

Acara ini juga dirangkai dengan penanaman pohon demokrasi oleh Andi Harun, Rektor Unmul, Abdul Nur, dan Anggota VI Badan Pengawas Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) Pius Lustrilanang di halaman GOR 27 September. (ADV)

Show More

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker