SAMARINDA – Aktivitas produksi cangkang ketupat di Kampung Ketupat, Samarinda, menjadi salah satu peluang ekonomi yang melibatkan masyarakat setempat. Kegiatan yang dikerjakan secara rumahan ini, tidak hanya menjaga keterampilan tradisional warga, tetapi juga membuka kesempatan untuk menambah penghasilan keluarga.
Anggota DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra, menilai keterlibatan warga memproduksi cangkang ketupat menjadi potensi ekonomi yang patut diperhatikan. Apalagi, aktivitas tersebut telah berkembang dan melibatkan masyarakat di sejumlah Rukun Tetangga (RT).
“Sekarang yang membuat cangkang ketupat ini bukan hanya satu atau dua orang. Sudah banyak warga yang terlibat, tersebar di enam RT. Ini tentu menjadi potensi yang bisa dikembangkan karena masyarakat mendapatkan peluang untuk menambah penghasilan,” ujar Samri Shaputra di Kantor DPRD Samarinda, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, produksi cangkang atau daun ketupat memiliki keunggulan. Karena dapat dikerjakan dari lingkungan tempat tinggal. “Masyarakat bisa menjalankan aktivitas ekonomi tanpa harus meninggalkan rumah dalam waktu lama,” katanya.
Samri Shaputra menyampaikan, keterlibatan perempuan juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Keterampilan menganyam daun menjadi cangkang ketupat dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi berbasis masyarakat. “Potensi itu perlu diikuti dengan perhatian terhadap keberlanjutan permintaan pasar,” jelasnya.
Ia menilai, jika produksi terus berkembang, pemasaran harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan agar hasil pekerjaan warga dapat terserap dan memberikan manfaat ekonomi secara konsisten. “Kalau permintaannya meningkat, masyarakat tentu punya kesempatan untuk meningkatkan produksinya. Karena itu, potensi yang sudah ada ini perlu dijaga dan didukung supaya manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga,” katanya.
Samri Shaputra menjelaskan, selain memberikan tambahan pendapatan, kegiatan produksi cangkang ketupat juga dapat menjadi identitas ekonomi khas Kampung Ketupat. Aktivitas masyarakat yang berangkat dari keterampilan lokal tersebut berpeluang diperkenalkan lebih luas sebagai bagian dari daya tarik kawasan.
“Namun, pengembangan usaha berbasis masyarakat tetap membutuhkan dukungan berbagai pihak. Terutama memperluas akses pemasaran dan menjaga kesinambungan produksi. Tanpa pasar yang memadai, potensi keterampilan warga berisiko belum memberikan hasil optimal,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan ekonomi yang telah tumbuh di Kampung Ketupat dapat terus berkembang sehingga semakin banyak keluarga memperoleh manfaat. “Penguatan usaha masyarakat perlu diarahkan agar keterampilan lokal tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan,” pungkas Samri. (Adv)
Penulis: Annisa Hidayah



