Diduga Salah Diagnosa Sakit Pasien, Puskesmas Lempake Klaim Telah Sesuai Prosedur

SAMARINDA – Orang tua pasien anak, Sulung mengeluhkan penanganan medis dan dugaan kesalahan diagnosis di Puskesmas Lempake, Kecamatan Samarinda Utara terhadap anaknya. Belakangan diketahui, anaknya mengalami usus buntu pecah dan harus menjalani operasi di Rumah Sakit Dirgahayu, Samarinda.

Sulung menjelaskan, anaknya mengeluh sakit perut sejak 7 Juli 2026. Besoknya, anaknya dibawa ke Puskesmas Lempake, untuk mendapatkan penanganan awal. Saat itu, dokter mendiagnosa anaknya mengalami maag dan diare. Lalu, memberikan obat untuk perawatan jalan.

Namun, tambah dia, sakit anaknya tidak juga membaik. Kemudian, pada 11 Juli 2026, dirinya kembali membawa anaknya ke Puskesmas. Sebab, anaknya masih merasakan keluhan nyeri di perutnya. Bahkan kondisi fisik anaknya semakin lemas.

“Saya menyesalkan saat datang kedua kalinya, kenapa tidak ada pemeriksaan laboratorium. Padahal fisik anak saya sudah semakin lemas. Tetapi, diaonosanya tetap sama, maag dan diare. Bahkan, obat yang diberikan juga sama,” tandas dia, Senin (27/7/2026).\

Seharusnya, kata dia, ketika pasien datang kembali dengan kondisi tidak menunjukkan perbaikan, maka dilakukan pemeriksaan lanjutan. Salah satunya, pemeriksaan laboratorium, untuk memastikan penyebab penyakit anaknya.

“Saat pemeriksaan pertama, saya tidak mempermasalahkan. Karena, gejalanya mungkin belum terlihat jelas. Tetapi, saat kembali lagi dan kondisi anak saya tidak membaik, mestinya ada pemeriksaan lanjutan,” ucap dia.

Karena kondisi putranya terus memburuk, kata dia, keluarga kemudian membawa anaknya ke IGD Puskesmas Lempake hingga akhirnya memperoleh surat rujukan. Pada 13 Juli, anaknya menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda. Dan didiagnosis mengalami usus buntu yang telah bernanah. Sehari kemudian, pasien langsung menjalani operasi.

“Di rumah sakit, dokter  menyampaikan kalau kondisinya sudah terlambat. Saat operasi ternyata usus buntunya sudah pecah. Padahal sejak awal kami selalu berusaha membawa anak berobat ketika sakit,” ucap dia.

Sulung mengaku mendapat penjelasan dari tenaga medis di rumah sakit, apabila dilakukan pemeriksaan penunjang usai pasien tetap mengeluh karena tidak kunjung membaik, maka kondisi pasien bisa diketahui lebih dini.

“Atas dasar itu, kami mempertanyakan mengapa pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan saat kunjungan kedua ke Puskesmas,” cetus dia.

Dia mengaku baru mengetahui dokter yang menangani anaknya merupakan dokter internship setelah menghadiri pertemuan dengan pihak Puskesmas. Dalam pertemuan tersebut, dokter yang menangani pasien tidak hadir dan hanya diwakili dokter pendamping.

“Kami ingin bertemu langsung dengan dokter yang menangani anak saya, dan ingin mendapat penjelasan mengapa saat itu tidak dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Saya meminta agar pemulihan anak saya benar-benar dikawal sampai sembuh,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Puskesmas Lempake, Komang Ayu Indah Ardhani, menyatakan pelayanan terhadap pasien telah dilakukan sesuai prosedur berlaku.”Kami Puskesmas sudah melayani sesuai dengan prosedur, itu saja yang bisa kami sampaikan,” ungkap dia.

Disinggung dugaan kesalahan prosedur penanganan pasien, dia kembali menegaskan pihaknya telah memberikan pelayanan sesuai ketentuan. Dan tidak dapat menjelaskan lebih jauh mengenai kasus tersebut, karena menyangkut kerahasiaan medis pasien.

“Mohon maaf, karena itu kerahasiaan medis, kami tidak bisa memberitahukan kepada teman-teman. Kami hanya bisa menyampaikan pelayanan sudah dilakukan sesuai prosedur,” pungkasnya. (nul)

Show More

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker