

BERAU – Ancaman lubang tambang yang terus meluas di Kabupaten Berau memicu peringatan keras dari Wakil Bupati Berau, Gamalis. Di hadapan perwakilan perusahaan tambang, ia menegaskan Berau sedang menghadapi situasi darurat lingkungan yang tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa.
“Berau hari ini sedang dikepung tambang. Kalau dibiarkan terus, yang tersisa nanti hanya lubang-lubang besar,” tegasnya dalam pertemuan bersama perusahaan tambang, Selasa (21/7/2026).
Gamalis mengungkapkan kekhawatirannya setelah melihat sejumlah lubang tambang yang berada di sekitar Teluk Bayur terus meluas hingga mendekati kawasan Tanjung Batu. Sebagian lubang bahkan memiliki elevasi lebih rendah dari permukaan Sungai Kelay, kondisi yang dinilai berpotensi memicu masalah lingkungan di masa mendatang.
Menurutnya, pemerintah daerah kini memiliki ruang yang terbatas karena kewenangan pengawasan hingga revegetasi pascatambang sebagian besar berada di pemerintah pusat. “Kita seperti hanya menunggu nasib. Lubang sudah terbuka, sementara kemampuan menutupnya sangat terbatas,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Gamalis menawarkan pendekatan baru reklamasi pascatambang melalui penanaman Kemiri Sunan, tanaman yang dinilai mampu menggabungkan pemulihan lingkungan dengan manfaat ekonomi.
Program tersebut diperkenalkan oleh Utusan Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito, yang menjelaskan bahwa Kemiri Sunan tidak hanya berfungsi menghijaukan lahan kritis, tetapi juga memperkuat struktur tanah melalui sistem perakarannya.
Selain itu, lahan reklamasi dapat dimanfaatkan untuk tanaman sela berupa food crop jangka pendek sehingga masyarakat sekitar tetap memperoleh manfaat ekonomi selama proses rehabilitasi berlangsung.
“Konservasi tidak boleh bertentangan dengan ekonomi. Lahan menjadi hijau, masyarakat mendapat penghasilan, dan ada nilai karbon yang bisa dimanfaatkan,” jelas Nico.
Ia mengungkapkan program serupa telah mulai diterapkan di Seychelles dan pihaknya siap membantu Berau dalam penghitungan hingga pengelolaan potensi kredit karbon yang dihasilkan dari penanaman Kemiri Sunan.
Tak hanya itu, hasil sampingan tanaman tersebut juga dapat diolah menjadi bahan bakar nabati melalui proses penyulingan sederhana tanpa memerlukan kilang besar. Untuk tahap awal, program membutuhkan sekitar 2.000 hektare lahan pascatambang agar pengelolaan dan fasilitas penyulingan dapat berjalan optimal.
“Target awalnya bukan menjual bahan bakar, tetapi membantu perusahaan tambang memenuhi sebagian kebutuhan energinya sendiri dari hasil reklamasi,” kata Nico.
Gamalis menilai program tersebut menjadi peluang penting bagi Berau untuk mengubah wajah lahan pascatambang yang selama ini dianggap beban lingkungan menjadi kawasan hijau yang produktif.
“Kita ingin reklamasi tidak berhenti pada seremonial tanam pohon. Harus ada hasil nyata: lingkungan pulih dan ekonomi masyarakat ikut bergerak,” pungkasnya.(ar/gs/adv)



