

KUTAI KARTANEGARA – Desa Kerta Buana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (memiliki) keberagaman budaya, suku, hingga agama. Keberagaman itu menciptakan rasa solidaritas dan toleransi yang tinggi.
Berkah keberagaman disertai toleransi yang tinggi dari masyarakat di Desa Kerta Buana, Desa Kertabuana didominasi oleh kultur dan masyarakat hindu. Namun di sana juga ada umat agama lainnya dan menciptakan toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang sangat baik.
Di Desa Kertabuana terdapat tempat ibadah umat Hindu, yaitu Pura. Tetapi Pura juga kerap menjadi tempat warga berdiskusi lintas agama.
Selain itu, kiprah warga Hindu Desa kertabuana juga membantu agama lain dalam beberapa agenda keagamaan. Kepala Desa Kerta Buana Kukar, Dewa Ketut Adi Basuki mengatakan, toleransi antarumat beragama di wilayahnya sudah terbentuk sejak desa ini berdiri.
Kertabuana berawal dari pemukiman rombongan warga transmigrasi yang berasal dari Propinsi Bali dan Sasak, Nusa Tenggara Barat. Desa ini terletak di L 3, Kecamatan Tenggarong Seberang yang merupakan kampung petani.
Di tahun 1980-an hingga saat ini Desa Kerta Buana menjadi sumber pangan bagi masyarakat Kukar dan sekitarnya. Perlahan, Desa Kertabuana berkembang dan menciptakan keragaman budaya dan kultur dari berbagai daerah di Indonesia dengan penuh toleransi dan kerukunan.
“Ini membuktikan bahwa kerukunan di Desa Kerta Buana Kukar ini sangat baik. Kami sangat mendukung sekali. Mudah-mudahan dengan dipilihnya Desa Kertabuana sebagai Kampung Pancasila bisa menjadi contoh bagi desa-desa yang lain,” ujar Dewa Ketut Adi Basuki.
Selain itu, kata Ketut Basuki, bahwa Desa Kerta Buana memiliki visi untuk menjadi pusat kebudayaan dan pariwisata. komitmennya untuk mewujudkan visi tersebut. Antara lain dengan mengikuti jejak Desa Penglipuran di Bali. “Kami memiliki keinginan yang kuat untuk mengikuti jejak mereka,” kata Ketut, Selasa (26/3/2024).
Ia menambahkan bahwa desa ini sedang dalam proses pembangunan Desa Wisata dengan pondasi yang telah mencapai panjang 300 meter. Pemberdayaan dan pembinaan masyarakat merupakan langkah penting dalam proses ini. “Kami percaya bahwa melalui kerja sama dan partisipasi aktif dari seluruh warga, kita dapat mencapai impian bersama ini,” imbuhnya.
Ketut mengungkapkan bahwa gapura kecil telah dibangun sebagai simbol awal dari transformasi yang akan datang.
“Rencananya, wilayah ini akan dijadikan sebagai pusat kegiatan seni dan budaya. Namun untuk menjadikan suatu desa wisata, tentu akan memakan waktu yang cukup lama dan proses yang panjang, sehingga masyarakat harus diberi kesadaran dan pemahaman mengenai pariwisata. Serta tetap menjaga dan melestarikan budaya, kearifan lokal, dan kesehatiannya. Karena tujuannya bukan mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya tetapi bagaimana agar wisatawan yang datang memiliki keinginan untuk datang lagi ke desa tersebut,” jelas dia.
Selain dari sumber daya manusianya, lanjut dia, suatu desa wisata juga harus menitikberatkan pada aksesibilitasnya. Perlu juga unggul dalam tiga aspek, yakni aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi. Agar Desa Kerta Buana dapat menjadi desa wisata yang berprestasi dan mandiri.
“Ada banyak hal di Bali yang dapat kita ambil dan terapkan untuk Desa Kerta Buana. Tetapi jangan juga meng-copy-paste Bali secara persis, tetap lestarikan budaya dan kearifan lokal yang ada di Desa Kerta Buana ini,” urainya. (ADV/DISKOMINFO KUKAR)



