SAMARINDA – Kota Samarinda telah beberapa kali diguyur hujan dalam sepekan terakhir. Namun kabut asap masih terlihat menyelimuti Kota Tepian. Hal itu menuai respon dari DPRD Kota Samarinda. Lembaga legislatif itu meminta penelusuran lebih lanjut, untuk mengetahui sumber asap. Terutama setelah laporan yang diterima menyebut tidak ada titik api aktif yang terpantau di wilayah kota pinggir sungai mahakam tersebut.
Anggota Kota Samarinda, Novan Syahronny Pasie, mengatakan, pihaknya telah beberapa kali meminta informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan relawan untuk mengetahui kondisi terkini karhutla di Samarinda.
“Kemarin sebelum terjadinya kebakaran di Sungai Kunjang, Kita sempat tanya ke BPBD dan relawan, apakah ada titik api di Samarinda, mereka menyampaikan tidak ada,” ujar Novan saat ditemui di Kantor DPRD Samarinda, Kamis (5/11/2026).
Novan menilai, kondisi itu membuat sumber asap yang masuk ke Samarinda belum dapat dipastikan. Diperlukan penelusuran dan koordinasi dengan instansi berwenang, agar asal asap diketahui berdasarkan hasil pemantauan. “Kalau memang tidak ada titik api di Samarinda, berarti kita harus mencari tahu asap ini asalnya dari mana,” katanya.
Meski demikian, Novan menyebut, memang tercatat setidaknya 157 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang tahun 2026 yang melanda kota Samarinda. Termasuk yang baru-baru ini terjadi di wilayah Sambutan dan Sungai Kunjang.
Namun, katanya, catatan kejadian kebakaran di dua titik terbaru itu juga tidak bisa menjadi dasar dugaan mengenai sumber asap yang menyelimuti Kota Samarinda dengan volume yang cukup besar dan merata. “Sebelum dua kebakaran itu kan Kita juga sudah dan masih berasap, nah ini yang kita ingin tau penyebabnya sebenarnya,” terangnya.
Ia mengatakan, informasi mengenai sumber asap perlu dipastikan melalui pemantauan lapangan dan koordinasi lintas instansi. Pemeriksaan dapat mencakup kondisi titik api, sebaran asap, serta arah pergerakan asap berdasarkan data yang tersedia. Termasuk potensi asap yang berasal dari luar wilayah juga mesti ditentukan langkah penanganannya.
Ia berharap instansi terkait segera memberikan penjelasan berdasarkan hasil pemantauan. Kepastian tersebut dinilai penting agar masyarakat memperoleh informasi jelas dan langkah penanganan dapat dilakukan sesuai kondisi sebenarnya. “Apabila asap berasal dari luar wilayah Samarinda, diperlukan koordinasi dengan daerah terkait agar sumbernya dapat ditelusuri dan ditangani,” pungkas Novan Syahronny Pasie. (ah/gs/dv)
Penulis: Annisa Hidayah



