
KUKAR – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kini mencapai sekitar Rp3.400 per kilogram. Harga tersebut mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya yang sempat berada di kisaran Rp2.600 per kilogram.
Kenaikan harga TBS menjadi kabar positif bagi para pekebun kelapa sawit di Kukar. Pasalnya, harga jual TBS menjadi salah satu faktor penting yang menentukan pendapatan pekebun, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan sawit.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kukar Muhammad Taufik mengatakan, pemerintah daerah terus melakukan pengawasan terhadap perkembangan harga TBS di wilayah Kukar. Pengawasan tersebut dilakukan, untuk memastikan harga yang diterima pekebun tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, perkembangan harga TBS tidak terlepas dari kondisi pasar komoditas kelapa sawit. Namun, pemerintah daerah tetap berupaya melakukan pemantauan agar terdapat transparansi dalam proses penetapan maupun pembayaran harga TBS kepada pekebun.
“Kami terus melakukan pengawasan terhadap harga TBS, sehingga pekebun mendapatkan harga sesuai dengan ketentuan,” kata Muhammad Taufik di Kedaton Kukar, Selasa (29/9/2026).
Menurut dia, kenaikan harga saat ini tentu menjadi hal positif bagi masyarakat, yang menggantungkan pendapatan dari perkebunan kelapa sawit. Pemerintah daerah juga terus mendorong penguatan kelembagaan pekebun.
“Keberadaan koperasi maupun kelembagaan pekebun dinilai penting untuk memperkuat posisi masyarakat dalam rantai usaha perkebunan kelapa sawit. Dengan kelembagaan yang semakin kuat, pekebun diharapkan dapat memperoleh akses yang lebih baik terhadap informasi harga, sarana produksi, hingga pemasaran hasil perkebunan,” jelas dia.
Sementara itu, Ketua Koperasi Produsen Rimba Jaya Mulia, Joyo Lukito menyebutkan, kenaikan harga TBS cukup dirasakan para pekebun. Harga sekitar Rp3.400 per kilogram memberikan ruang lebih baik bagi pekebun dibandingkan ketika harga hanya berada di kisaran Rp2.600 per kilogram.
“Kenaikan harga ini tentu sangat membantu pekebun. Kalau sebelumnya sekitar Rp2.600 per kilogram, sekarang sudah mencapai Rp3.400 per kilogram. Selisihnya cukup terasa bagi pendapatan pekebun,” sebut Joyo Lukito.
Peningkatan harga TBS menjadi dorongan bagi masyarakat, untuk tetap mempertahankan sektor perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu sumber penghasilan. Namun, diharapkan harga yang baik tersebut dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Sebab, pendapatan pekebun tidak hanya dipengaruhi harga jual TBS, tetapi juga biaya produksi, seperti pemupukan, perawatan kebun, tenaga panen dan biaya angkutan.
“Kami berharap, harga ini bisa tetap baik dan memberikan keuntungan yang layak bagi pekebun. Karena biaya untuk merawat kebun juga cukup besar,” tuturnya.
Dia menyampaikan, dengan kondisi harga TBS yang meningkat, pemerintah daerah bersama kelembagaan pekebun diharapkan terus memperkuat pengawasan dan tata kelola perkebunan. “Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan pekebun, sekaligus mempertahankan sektor kelapa sawit sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat di Kukar,” ungkap dia. (adv/ki/Diskominfo Kukar)
Editor : Abdul Rahman


