SAMARINDA — Program digitalisasi pendidikan di Kota Samarinda dinilai masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Meski implementasinya telah berjalan selama dua tahun terakhir, penerapan pembelajaran berbasis teknologi disebut belum sepenuhnya optimal karena terkendala fasilitas dan kesiapan tenaga pengajar.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahronny Pasie, mengatakan pemerintah sebenarnya telah mulai mendorong transformasi pendidikan digital di sekolah-sekolah. Namun, pelaksanaannya di lapangan masih belum merata.
Ia menyebut, program tersebut kini memasuki tahun kedua, tetapi berbagai kendala teknis masih menjadi hambatan utama dalam proses pembelajaran berbasis digital.
“Programnya sudah berjalan sejak tahun lalu dan sekarang masuk tahun kedua. Tetapi memang masih banyak hal yang perlu dibenahi agar pelaksanaannya bisa maksimal,” ujarnya, Selasa (19/5/2026)
Menurut Novan, persoalan pertama berkaitan dengan sarana dan prasarana pendukung. Sejumlah sekolah dinilai belum memiliki perangkat yang memadai untuk menunjang pembelajaran digital secara optimal.
Ia menjelaskan, sebagian sekolah bahkan masih mengandalkan perangkat sederhana dengan dukungan jaringan internet yang terbatas. Kondisi itu membuat proses belajar berbasis teknologi belum dapat diterapkan secara menyeluruh.
“Di beberapa sekolah masih memakai fasilitas seadanya. Ada yang hanya mengandalkan handphone dan koneksi internet yang belum stabil,” katanya.
Selain infrastruktur, DPRD juga menyoroti kesiapan sumber daya manusia, khususnya tenaga pengajar. Novan menilai, kemampuan guru dalam memahami materi berbasis teknologi masih perlu diperkuat, terutama terkait coding dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, penguasaan materi menjadi faktor penting agar transformasi digital di sektor pendidikan tidak hanya bersifat formalitas.
“Kalau gurunya belum memahami coding atau sistem berbasis AI, tentu proses pembelajarannya tidak akan berjalan efektif. Karena materi seperti itu membutuhkan pemahaman teknis yang cukup,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menyebabkan penerapan digitalisasi pendidikan di Samarinda belum berjalan seragam. Ada sekolah yang mulai berkembang, namun ada pula yang masih kesulitan menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran berbasis teknologi.
Novan berujar, pihaknya akan terus mendorong pemerintah daerah untuk lebih fokus meningkatkan kompetensi tenaga pengajar melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan.
“Peningkatan kapasitas guru harus menjadi prioritas. Jangan sampai digitalisasi pendidikan hanya sebatas program, tetapi penerapannya di sekolah belum benar-benar siap,” kata Novan. (ah/gs/adv)
Penulis: Annisa Hidayah



