SAMARINDA — Di tengah dorongan transformasi pendidikan berbasis teknologi, DPRD Kota Samarinda mengingatkan agar digitalisasi tidak sampai menghilangkan nilai-nilai dasar dalam proses belajar mengajar, terutama interaksi manusiawi antara guru dan murid.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menilai perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari. Namun, penggunaan perangkat digital dalam pendidikan tetap harus dibatasi agar tidak menggeser esensi pembelajaran itu sendiri. “Teknologi itu hanya alat. Tetapi yang utama itu kemampuan tenaga didiknya, yaitu guru,” kata Anhar, Kamis (21/5/2026)
Ia mencontohkan, sejumlah negara mulai kembali mengurangi dominasi perangkat digital di ruang kelas dan menghidupkan kembali penggunaan buku cetak sebagai media belajar utama. Kebijakan itu, menurutnya, lahir dari kekhawatiran terhadap menurunnya kemampuan berpikir mendalam pada anak.
Anhar menyebut Denmark menjadi salah satu negara yang mulai menarik dominasi pembelajaran digital di sekolah. Selain Denmark, beberapa negara lain seperti China dan Jepang juga mulai memperketat penggunaan media digital bagi anak-anak.
“Sekarang semakin banyak negara bertindak tegas melindungi anak-anak dari dampak negatif dunia digital. Ada yang mulai mengurangi penggunaan layar dan mengembalikan buku di ruang kelas,” ujarnya.
Menurut Anhar, membaca buku cetak memiliki perbedaan mendasar dibanding membaca melalui layar digital. Ia menilai buku memberi ruang lebih besar bagi siswa untuk memahami dan merenungkan materi pelajaran secara mendalam.
“Kalau membaca di layar itu cepat, tetapi jarang memberi ruang perenungan. Beda dengan buku. Buku itu membuat orang lebih fokus dan lebih dalam memahami sesuatu,” tuturnya.
Ia juga menyoroti menurunnya interaksi sosial akibat ketergantungan masyarakat terhadap teknologi. Dalam dunia pendidikan, kondisi itu dinilai dapat berdampak pada hubungan antara guru dan murid maupun antarsiswa.
“Jangan sampai laptop menggantikan buku sepenuhnya dan interaksi manusia hilang. Pendidikan itu bukan hanya soal transfer informasi, tapi juga hubungan manusiawi,” tegasnya.
Anhar menilai digitalisasi tetap diperlukan dalam beberapa aspek, terutama untuk mendukung efisiensi administrasi dan akses informasi. Namun ia mengingatkan agar teknologi tidak dijadikan tujuan utama dalam pendidikan.
Ia berharap penerapan pendidikan digital di Samarinda nantinya berjalan secara seimbang, yakni memanfaatkan teknologi tanpa menghilangkan budaya membaca, kemampuan berpikir kritis, dan interaksi sosial di lingkungan sekolah. “Ada ruang-ruang yang memang bisa menggunakan teknologi, tapi ada juga yang tidak boleh kehilangan sisi manusianya. Jangan sampai kita menjadi hamba digitalisasi,” pungkasnya. (ah/gs/adv)
Penulis: Annisa Hidayah



