Perkuat Sinergi dengan Bunda Harum, IPPRISIA Kaltim Gencarkan Program Pemberdayaan hingga Warga Tak Miliki Jamban

SAMARINDA – Persoalan masyarakat tidak selalu berada jauh dari pusat kota. Di tengah perkembangan Kota Samarinda, masih ditemukan warga belum memiliki jamban layak. Temuan tersebut menjadi salah satu isu yang mencuat dalam audiensi jajaran pengurus Ikatan Penata Persona Indonesia (IPPRISIA) Kalimantan Timur bersama Ketua TP PKK Kaltim Hj. Sarifah Suraidah Harum di Rumah Dinas Odah Etam Kaltim, Selasa (22/9/2026).

Dalam pertemuan itu, Ketua IPPRISIA Kaltim Marliana Wahyuningrum bersama jajaran pengurus menyampaikan berbagai program organisasi sekaligus perkembangan kerja sama yang telah dilakukan di lapangan.

Tiga program utama yang menjadi perhatian adalah SAPA, DICINTAI dan SIAP BERDAYA. Ketiganya dikembangkan dengan pendekatan berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama, yakni pemberdayaan masyarakat, perempuan, anak dan keluarga.

Program SAPA atau Sahabat Peduli Anak, misalnya, telah diwujudkan IPPRISIA Kaltim melalui kerja sama dan pendampingan di Sekolah Rakyat Samarinda. Program ini diarahkan untuk memberikan penguatan kepada anak melalui pendampingan, pengembangan karakter dan dukungan terhadap proses tumbuh kembang mereka.

Sementara SIAP BERDAYA diarahkan pada peningkatan kemandirian perempuan dan kelompok rentan. Salah satu implementasinya dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada warga binaan di Rutan 1 Samarinda dan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) melalui kursus menjahit.

Tidak berhenti pada pelatihan, IPPRISIA juga memberikan dukungan berupa mesin jahit sehingga keterampilan yang diperoleh dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif. Pendekatan tersebut menunjukkan pemberdayaan tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan pelatihan, tetapi diarahkan agar peserta memiliki sarana untuk melanjutkan keterampilan menjadi kegiatan yang bernilai ekonomi.

Program lainnya, DICINTAI atau Ibu Cerdas Indonesia Tanpa Stunting, juga dikembangkan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Di Samarinda, IPPRISIA mendampingi kelompok warga agar tidak hanya mampu mengolah makanan sehat untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan.

Dengan demikian, edukasi mengenai pangan dan kesehatan keluarga dipadukan dengan penguatan ekonomi sehingga manfaat program diharapkan dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Paparan mengenai berbagai program tersebut mendapat apresiasi dari Bunda Harum. Sarifah Suraidah Harum merupakan Ketua TP PKK Provinsi Kaltim sekaligus penasihat IPPRISIA Kaltim. Ia juga merupakan anggota DPR RI periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Kalimantan Timur.

Sebagai Ketua TP PKK Kaltim, Bunda Harum berharap kerja sama antara IPPRISIA dan TP PKK Kaltim dapat kembali diperkuat. “Di periode sebelumnya sudah kerja sama, kini kita kerja sama lagi lebih erat,” kata Bunda Harum.

Menurut dia, sinergi antara organisasi masyarakat dan TP PKK penting untuk memperluas jangkauan program pemberdayaan hingga menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Namun, audiensi tersebut tidak hanya membahas program.

Marliana juga menyampaikan temuan lapangan yang diperoleh ketika IPPRISIA Kaltim melakukan kunjungan bersama Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda.

Audensi pengurus IPPRISIA Kaltim dengan Ketua TP PKK Kaltim Hj. Sarifah Suraidah Harum di Rumah Dinas Odah Etam Kaltim, Selasa (22/9/2026).
Audensi pengurus IPPRISIA Kaltim dengan Ketua TP PKK Kaltim Hj. Sarifah Suraidah Harum di Rumah Dinas Odah Etam Kaltim, Selasa (22/9/2026).

Dalam kunjungan itu ditemukan sejumlah warga yang belum memiliki jamban. Yang membuat persoalan tersebut menjadi perhatian lebih serius, lokasi warga tersebut berada di kawasan tengah Kota Samarinda.

Informasi tersebut sontak membuat Bunda Harum terkejut. Ia meminta data mengenai warga dan lokasi tersebut segera disampaikan agar dapat ditindaklanjuti bersama instansi terkait. “Wah, saya baru tahu kalau ada yang seperti ini. Ini tidak boleh dibiarkan, harus segera diatasi. Nanti kirim data dan alamatnya ya,” ujar Bunda Harum kepada Marliana.

Permintaan tersebut sekaligus membuka ruang tindak lanjut agar temuan lapangan tidak berhenti sebagai laporan dalam forum audiensi. Bagi IPPRISIA Kaltim, persoalan jamban dan sanitasi merupakan bagian dari persoalan kualitas hidup masyarakat yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Sebab, akses terhadap sanitasi dasar berkaitan dengan kesehatan keluarga, lingkungan dan kualitas hidup warga.

Marliana mengatakan IPPRISIA Kaltim berkomitmen membawa program organisasi lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. “Kami ingin program-program IPPRISIA tidak berhenti sebagai kegiatan organisasi, tetapi benar-benar hadir menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Marliana.

Kerja sama dengan TP PKK Kaltim diharapkan dapat memperkuat berbagai program yang selama ini telah berjalan, mulai dari pendampingan anak, penguatan keluarga, pencegahan stunting, pemberdayaan perempuan hingga peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat.

Sinergi tersebut juga menjadi kelanjutan dari kerja sama yang telah dilakukan pada periode sebelumnya. Bedanya, pada periode kali ini IPPRISIA ingin memperluas kolaborasi dengan membawa pengalaman dan hasil pendampingan di lapangan sebagai bahan untuk merancang program yang semakin tepat sasaran.

Sebelumnya, IPPRISIA Kaltim juga terlibat dalam kegiatan pemberdayaan bersama sejumlah pihak di daerah. Kolaborasi tersebut mencakup penguatan kapasitas perempuan, pendampingan anak serta kegiatan yang mendorong peningkatan kemampuan masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, audiensi di Rumah Dinas Odah Etam tidak hanya menjadi ajang penyampaian program organisasi. Pertemuan itu juga menjadi pintu masuk untuk mempertemukan program pemberdayaan dengan persoalan nyata masyarakat, termasuk persoalan sanitasi dasar yang ternyata masih ditemukan di tengah Kota Samarinda. (*)

Sumber : Pers Rilis

Show More

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker